SEJARAH DESA PASEH
26 Agustus 2016 Administrator 642 Kali Dibaca

Sejarah Singkat Desa Paseh

 

Foto:  saat pemilihan Kepala Desa Paseh tahun 1975 dari kiri Atmo Suwirdjo, Tugiman Siswanto, Nipan Sudirjo, Chanan Chaerudin, Sarida Wirjosumarno

Desa Paseh termasuk dalam wilayah Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara, Keberadaanya terletak di 5 km kota Kecamatan dan 12 km barat laut Ibukota Kabupaten Banjarnegara dg luas wilayah 314 Hektar yang meliputi 4 dusun (kebaon).

Desa Paseh berasal dari penyingkatan bahasa jawa yaitu Patilasaan Syeh (Tanda /rute perjalanan syeh) yang kemudian orang menyebutnya sebagai PASEH.

Menurut cerita, dahulu pada masa penyebaran agama islam di Banjarnegara, datanglah dua orang ulama besar (syeh) yang berasal dari Gresik Jawa Timur singgah di wilayah Kecamatan Banjarmangu. Dalam rangka dakwahnya, dua orang ulama itu mengambil rute perjalanannya ke arah barat dan salah satu kegiatannya mengadakan survey di suatu kampung di sebelah barat Banjarmangu untuk didirikan pondok pesantren. Di kampung itu tempat dimana ulama itu melaksanakan survey dan tempat ia berdiri/singgah di beri batu sebagai tanda (patilasan). Seiring berjalannya waktu, oleh warga setempat kampung itu diberi nama Paseh yang sampai sekarang di gunakan sebagai nama Desa Paseh.

Setelah mengadakan survey, kedua syeh tersebut masing-masing menuju ke arah barat dan utara. Menurut cerita warga, syeh yang melanjutkan perjalanan ke arah utara adalah syeh Giri Pitoyo yang sering disebut sebagai Kanjeng Sunan Giripit, sementara syeh yang melanjutkan perjalanan ke arah barat adalah syeh Giri Wasiat atau orang menyebutnya Kanjeng Sunan Giri Wasiat.

Desa Paseh pada awal mulanya adalah gabungan dari 2 desa yaitu Desa Paseh dan Desa Karangasem yang di batasi oleh jalan yang membentang diantara keduanya, adapun sebelah timur jalan adalah Desa Paseh dan sebelah barat Desa Karangasem.

Adapun Nama Kepala Desa Sebelum bergabungnya Desa Karangasem dan Desa Paseh adalah sebagai berikut :

  1. Desa Karangasem:
  2. Limun
  3. Patradiwirja
  4. Desa Paseh :
  5. Rinten
  6. Sahid Sopardji

Pada tanggal 23 Agustus 1923 oleh kanjeng Bupati Banjarnegara pada waktu itu R.Adipati Ario Djojonagoro II (1886-1927 M) kedua desa itu di satukan (disepok) menjadi satu desa dan sepakat mengambil nama dari salah satu desa dan sepakat memberi nama PASEH yang sudah lebih dikenal masyarakat luas dan dinilai memiliki nilai historis tinggi dengan cerita Syeh Kanjeng Sunan Giripit.

Penyatuan desa pada waktu itu melalui musyawarah, dimana dimufakati oleh warga dua desa tersebut yang menjadi kepala desa diambil dari carik (sekretaris desa) yang pada waktu itu menjabat sebagai carik (sekdes) pada dua desa tersebut.nama-nama Kepala Desa Paseh setelah penyatuan :

  1. Sardan Setradiwirja : 1923,
  2. Suhadi Hadisuwirja : 1942,
  3. Sarida Wirjosumarno : 1975,
  4. Gatot : 1989,
  5. Zaeni Akhsanudin : 1998,
  6. Gatot : 2007,
  7. Waris: 2013
  8. Waris: 2019

 

Sebagai pengingat tahun berdirinya Desa Paseh sekaligus merupakan semboyan Warga Desa Paseh tersurat dan tersirat pada Candra Sengkala sebagai berikut :"SUNARING PANEMBAH SEKARING JAGAD" sengkalan yang menandai peringatan tahun 1923. Kata Sunaring (sinar) melambangkan angka tiga, Panembah (penyembah) melambangkan angka dua, Sekaring (bunga) melambangkan angka sembilan, dan Jagad (dunia) melambangkan angka satu. Jadi sengkalan ini melambangkan tahun 1923 dan mempunyai arti "Sinar Penyembah Bunga Dunia" makna konotatif sengkalan ini adalah "Perbuatan Manusia Pada Jalan Tuhan Dapat Membahagiakan Kehidupan Di Dunia". Kata Sunaring Panembah (Sinar Penyembah) menunjukan pancaran perbuatan seseorang yang berbakti kepada tuhan. Sedangkan kata Sekaring Jagad (Bunga Dunia) menunjukan hasil perbuatan yang baik di dunia.

 

Berkas Lampiran

Silahkan tulis komentar anda
CAPTCHA Image [ Ganti Gambar ]